Jakarta, 5 September 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap bank sentral AS atau Federal Reserve agar segera menurunkan suku bunga. Trump menilai tingkat suku bunga yang tinggi menempatkan Amerika Serikat pada posisi yang tidak menguntungkan dibandingkan negara lain, terutama dalam perdagangan dan pembiayaan ekonomi. Ia bahkan menginginkan Amerika Serikat memiliki tingkat suku bunga paling rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia. Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan perbedaan pandangan antara Gedung Putih dan The Fed mengenai arah kebijakan moneter. Pemerintah Trump menginginkan biaya pinjaman lebih murah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara bank sentral masih menghadapi tekanan inflasi yang berada di atas sasaran.
Trump menyampaikan desakan tersebut setelah laporan terbaru pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan penciptaan lapangan kerja pada Agustus lebih kuat dibandingkan perkiraan. Data ketenagakerjaan yang kuat justru memperbesar kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan ketat atau bahkan menaikkan suku bunga dalam pertemuan berikutnya. Trump mempunyai pandangan berbeda dan menilai kekuatan ekonomi Amerika Serikat seharusnya menjadi alasan untuk memperoleh biaya pinjaman yang lebih rendah. Menurutnya, negara dengan kondisi ekonomi dan kredit yang kuat semestinya dapat menikmati tingkat bunga yang lebih rendah. Ia kemudian kembali meminta jajaran The Fed mempertimbangkan penurunan suku bunga. Tekanan tersebut disampaikan menjelang pertemuan kebijakan moneter yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan September.
Trump juga mengaitkan persoalan suku bunga dengan kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Ia mengancam dapat menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang memiliki surplus perdagangan terhadap AS apabila The Fed tidak menurunkan tingkat bunga. Menurut Trump, kebijakan tersebut bahkan dapat menjadi instrumen yang lebih efektif dibandingkan tarif dalam menghadapi ketidakseimbangan perdagangan. Pernyataan itu menambah dimensi baru dalam tekanan terhadap bank sentral karena kebijakan moneter dan perdagangan pada dasarnya berada dalam mekanisme pengambilan keputusan yang berbeda. The Fed menentukan suku bunga berdasarkan mandat stabilitas harga dan kondisi ketenagakerjaan. Sementara kebijakan perdagangan berada di bawah kewenangan pemerintah dan lembaga terkait.
Saat ini suku bunga acuan The Fed berada pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Bank sentral mempertahankan tingkat tersebut dalam sejumlah pertemuan sepanjang 2026 setelah sebelumnya melakukan pelonggaran pada akhir tahun lalu. Pertimbangan utama The Fed adalah inflasi yang masih berada di atas target jangka panjang sebesar 2 persen. Pada saat bersamaan, kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih relatif kuat sehingga tekanan untuk segera memberikan stimulus melalui penurunan suku bunga belum terlalu besar. Situasi tersebut membuat ruang kebijakan bank sentral menjadi semakin kompleks. Penurunan suku bunga terlalu cepat berpotensi kembali meningkatkan tekanan harga, sedangkan kebijakan terlalu ketat dapat membebani investasi dan konsumsi.
Laporan ketenagakerjaan Agustus semakin memperumit peluang penurunan bunga yang diinginkan Trump. Ekonomi Amerika Serikat tercatat menambah sekitar 162 ribu pekerjaan pada bulan tersebut, lebih kuat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Data itu mendorong pelaku pasar meningkatkan perkiraan bahwa The Fed dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Kondisi tenaga kerja yang tetap kuat memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat apabila inflasi belum menunjukkan penurunan yang meyakinkan. Pasar kini menunggu data inflasi Agustus sebagai salah satu indikator utama sebelum keputusan tersebut dibuat. Pergerakan ekspektasi suku bunga dapat berubah kembali apabila data harga menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda.
Ketua The Fed Kevin Warsh sejauh ini menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga dan independensi kebijakan moneter. Sejumlah pejabat bank sentral juga memperlihatkan pandangan yang berbeda mengenai langkah yang tepat pada September. Sebagian melihat kenaikan bunga mungkin diperlukan apabila inflasi kembali menguat, sedangkan pejabat lainnya memilih menunggu bukti tambahan sebelum memperketat kebijakan. Gubernur The Fed Christopher Waller, misalnya, menyatakan dirinya dapat mendukung mempertahankan suku bunga apabila data terbaru menunjukkan proses penurunan inflasi terus berlangsung. Namun, ia juga membuka kemungkinan mendukung kenaikan apabila inflasi kembali meningkat. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan keputusan mendatang masih sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Hubungan antara Trump dan The Fed telah lama menjadi perhatian pasar karena presiden berulang kali menyampaikan keinginannya terhadap suku bunga yang jauh lebih rendah. Pada periode sebelumnya, tekanan serupa juga diarahkan kepada Jerome Powell ketika masih memimpin bank sentral. Pergantian kepemimpinan kepada Kevin Warsh tidak serta-merta membuat kebijakan The Fed mengikuti keinginan pemerintah. Bank sentral tetap mempunyai struktur pengambilan keputusan melalui Federal Open Market Committee yang melibatkan sejumlah pejabat dan pimpinan bank regional. Setiap keputusan ditentukan berdasarkan pemungutan suara setelah mempertimbangkan inflasi, ketenagakerjaan, pertumbuhan, dan risiko ekonomi. Karena itu, presiden tidak mempunyai kewenangan langsung untuk menetapkan tingkat suku bunga acuan.
Keinginan Trump terhadap suku bunga rendah mempunyai sejumlah pertimbangan ekonomi. Penurunan bunga dapat mengurangi biaya kredit bagi rumah tangga dan perusahaan, termasuk pembiayaan perumahan, kendaraan, investasi bisnis, serta berbagai kegiatan produktif lainnya. Pemerintah juga dapat memperoleh manfaat dari biaya pembiayaan utang yang lebih rendah apabila imbal hasil obligasi ikut turun. Kebijakan tersebut berpotensi mendorong konsumsi dan investasi sehingga pertumbuhan ekonomi dapat bergerak lebih cepat. Namun, stimulus melalui bunga rendah juga mempunyai risiko apabila diterapkan ketika tekanan harga masih tinggi. Permintaan yang meningkat terlalu cepat dapat membuat inflasi sulit kembali menuju sasaran 2 persen.
Perdebatan mengenai suku bunga juga berkaitan dengan independensi The Fed sebagai bank sentral. Independensi diperlukan agar keputusan moneter dapat dibuat berdasarkan kondisi ekonomi jangka menengah dan panjang tanpa terlalu dipengaruhi kepentingan politik jangka pendek. Tekanan terbuka dari presiden tidak otomatis mengubah keputusan Federal Open Market Committee. Namun, pernyataan pemerintah tetap dapat memengaruhi ekspektasi investor, pergerakan dolar AS, obligasi pemerintah, dan pasar saham. Investor akan memperhatikan apakah tekanan politik berkembang menjadi perubahan kebijakan yang lebih luas. Kredibilitas bank sentral dalam mengendalikan inflasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan terhadap perekonomian Amerika Serikat.
Pertemuan The Fed pada pertengahan September kini menjadi perhatian setelah Trump kembali menyerukan pemangkasan bunga di tengah data ekonomi yang justru membuka peluang kebijakan lebih ketat. Arah keputusan akan sangat bergantung pada laporan inflasi dan indikator ekonomi terbaru yang diterbitkan sebelum pertemuan tersebut. The Fed dapat mempertahankan bunga apabila melihat tekanan harga mulai mereda, tetapi peluang kenaikan tetap terbuka jika inflasi kembali menguat. Sebaliknya, pemangkasan seperti yang diinginkan Trump menghadapi tantangan karena inflasi masih berada di atas target bank sentral. Perbedaan antara keinginan Gedung Putih dan pertimbangan The Fed diperkirakan tetap menjadi salah satu isu utama dalam kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Keputusan September akan menjadi ujian penting bagi arah kebijakan moneter sekaligus independensi bank sentral di tengah tekanan politik yang semakin kuat.







