Jakarta, 30 Agustus 2026 – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mengimbau wisatawan untuk tetap mengutamakan keselamatan saat melakukan perjalanan wisata di wilayah Labuan Bajo dan Flores. Imbauan tersebut disampaikan seiring aktivitas pariwisata di sejumlah wilayah Flores yang mulai berangsur pulih setelah gempa bumi yang melanda kawasan tersebut pada 15 Agustus 2026. Meski sejumlah destinasi telah kembali menerima kunjungan, kondisi setiap wilayah belum sepenuhnya sama sehingga wisatawan perlu memastikan informasi terbaru sebelum berangkat. BPOLBF menilai pemulihan sektor pariwisata harus berjalan secara bertahap dengan tetap menempatkan keselamatan wisatawan, masyarakat, dan pelaku usaha sebagai pertimbangan utama.
BPOLBF menyebut sebagian destinasi wisata, akses transportasi, akomodasi, dan fasilitas pendukung di Flores telah kembali beroperasi. Namun, masih terdapat sejumlah lokasi yang ditutup sementara karena sedang menjalani proses pemeriksaan dan verifikasi kondisi setelah gempa. Perbedaan kondisi tersebut membuat wisatawan tidak dapat menganggap seluruh destinasi di Flores sudah berada dalam situasi yang sama. Informasi mengenai status destinasi juga dapat berubah mengikuti hasil pemantauan di lapangan. Karena itu, wisatawan diminta memastikan kembali kondisi lokasi yang akan dikunjungi sebelum memulai perjalanan.
Di Kabupaten Manggarai Barat, beberapa destinasi seperti Batu Cermin, Komodo, Liang Ndara, Papagarang, Pasir Panjang, Siru, Tondong Belang, dan Wae Lolos telah tercatat kembali membuka kunjungan. Sementara itu, sejumlah destinasi lain di wilayah Flores masih menerapkan penutupan sementara sebagai bagian dari langkah perlindungan terhadap pengunjung. Taman Nasional Kelimutu juga telah kembali membuka kunjungan wisata alam sejak 25 Agustus 2026 setelah sebelumnya dilakukan penutupan sementara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembukaan destinasi dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan penilaian terhadap tingkat keamanan masing-masing kawasan.
BPOLBF meminta wisatawan memeriksa status destinasi sebelum melakukan perjalanan, termasuk memastikan kondisi akses jalan, pelabuhan, penerbangan, serta akomodasi yang akan digunakan. Langkah tersebut penting karena fasilitas pariwisata di sejumlah wilayah terdampak masih dalam proses pendataan dan sebagian mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda. Wisatawan juga dianjurkan berkomunikasi dengan pengelola destinasi maupun penyedia layanan perjalanan untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi lapangan. Dengan melakukan pengecekan sebelum berangkat, wisatawan dapat mengurangi risiko menghadapi kendala selama perjalanan. Persiapan tersebut juga membantu wisatawan menentukan rencana alternatif apabila destinasi utama belum dapat dikunjungi.
Selain memastikan kondisi destinasi, wisatawan diminta mengikuti arahan petugas dan pengelola selama berada di kawasan wisata. Apabila suatu lokasi masih ditutup atau belum dinyatakan aman, wisatawan diharapkan tidak memaksakan diri untuk masuk meskipun tempat tersebut merupakan bagian dari rencana perjalanan. Pembatasan yang diberlakukan pengelola merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko terhadap pengunjung. Kepatuhan wisatawan terhadap aturan juga dapat membantu petugas melakukan pemantauan dengan lebih efektif. Sikap disiplin tersebut menjadi semakin penting di kawasan yang masih berada dalam tahap pemulihan pascabencana.
BPOLBF juga mengingatkan wisatawan untuk terus memantau informasi resmi dari berbagai instansi terkait. Informasi mengenai kondisi destinasi dapat diperoleh melalui BPOLBF, pemerintah daerah, pengelola destinasi, BMKG, BNPB, KSOP, pengelola bandara, serta otoritas lainnya sesuai kebutuhan. Pemantauan informasi secara berkala diperlukan karena kondisi cuaca, aksesibilitas, maupun situasi keamanan dapat berubah dalam waktu singkat. Wisatawan juga diharapkan tidak langsung mempercayai informasi yang beredar tanpa memastikan kebenarannya. Mengandalkan informasi resmi dapat membantu wisatawan mengambil keputusan perjalanan berdasarkan kondisi aktual.
Untuk kegiatan wisata bahari dan olahraga air, aspek keselamatan mendapat perhatian khusus karena kondisi cuaca, gelombang, dan angin dapat memengaruhi keamanan perjalanan. Wisatawan yang hendak melakukan aktivitas laut diminta memperhatikan kondisi cuaca serta mengikuti arahan petugas sebelum berangkat. Pengelola kapal dan aktivitas wisata bahari juga perlu memastikan seluruh perlengkapan keselamatan tersedia dan dapat digunakan dengan baik. Pengalaman wisata yang menyenangkan tetap harus disertai kesiapan menghadapi perubahan kondisi di laut. Wisatawan tidak dianjurkan memaksakan kegiatan apabila petugas menyatakan kondisi belum memungkinkan untuk melakukan aktivitas.
Keselamatan wisatawan menjadi perhatian penting karena Labuan Bajo dan sejumlah wilayah Flores memiliki karakter wisata yang banyak mengandalkan aktivitas alam dan bahari. Kegiatan seperti perjalanan menggunakan kapal, menyelam, trekking, serta kunjungan ke kawasan alam memiliki risiko yang perlu dikelola dengan baik. BPOLBF sebelumnya juga telah mendorong penguatan standar keselamatan wisata bahari melalui edukasi dan pelatihan bagi pelaku pariwisata. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi kondisi darurat. Dengan meningkatnya kompetensi pelaku wisata, respons terhadap situasi yang tidak diinginkan diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.
Dalam kondisi pascagempa, wisatawan juga diminta tetap tenang apabila merasakan gempa susulan. Kepanikan dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang justru meningkatkan risiko, terutama ketika berada di lokasi wisata yang ramai atau kawasan dengan kondisi geografis tertentu. Wisatawan perlu mengikuti prosedur keselamatan yang diberikan petugas dan segera menuju lokasi aman apabila terdapat instruksi evakuasi. Barang bawaan sebaiknya tidak menjadi prioritas apabila keselamatan sedang terancam. Pemahaman terhadap prosedur sederhana tersebut dapat membantu wisatawan menghadapi keadaan darurat dengan lebih teratur.
BPOLBF terus melakukan pemantauan terhadap destinasi, akomodasi, aksesibilitas, dan aktivitas pariwisata di berbagai wilayah Flores. Pemantauan dilakukan bersama pemerintah daerah, pengelola destinasi, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan informasi mengenai kondisi lapangan dapat diperbarui. Hasil pemantauan menjadi salah satu dasar dalam menentukan apakah suatu destinasi dapat dibuka kembali atau masih membutuhkan pembatasan. Pendekatan tersebut membuat proses pemulihan pariwisata dapat dilakukan sesuai kondisi masing-masing wilayah. Pemerintah juga dapat segera menyesuaikan langkah apabila ditemukan perkembangan baru yang berpotensi memengaruhi keselamatan wisatawan.
Pemulihan pariwisata di Flores menjadi kabar positif bagi pelaku usaha dan masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari sektor tersebut. Kembali bergeraknya aktivitas wisata dapat membantu hotel, restoran, transportasi, pemandu wisata, pengelola destinasi, serta usaha kecil di sekitar kawasan wisata untuk kembali menjalankan kegiatan secara bertahap. Namun, pemulihan ekonomi tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan kondisi keselamatan di lapangan. Destinasi yang belum siap perlu diberikan waktu untuk menjalani pemeriksaan dan perbaikan sebelum kembali menerima pengunjung. Dengan cara tersebut, kepercayaan wisatawan terhadap Flores sebagai tujuan wisata dapat tetap terjaga.
BPOLBF menilai wisatawan juga memiliki peran penting dalam menciptakan kegiatan pariwisata yang aman dan bertanggung jawab. Selain mematuhi aturan, wisatawan perlu menjaga kondisi fisik, memperhatikan lingkungan sekitar, dan segera menyampaikan informasi kepada petugas apabila menemukan situasi yang berpotensi membahayakan. Wisatawan yang memiliki kondisi kesehatan tertentu juga sebaiknya mempertimbangkan kemampuan fisik sebelum mengikuti aktivitas wisata dengan tingkat risiko tinggi. Persiapan yang baik sejak sebelum keberangkatan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya persoalan selama perjalanan. Kesadaran tersebut menjadi bagian dari konsep pariwisata yang tidak hanya mengejar pengalaman, tetapi juga memperhatikan keamanan semua pihak.
Dengan aktivitas pariwisata yang mulai pulih, BPOLBF berharap kunjungan wisatawan ke Flores dapat kembali meningkat secara bertahap dan tetap berlangsung secara aman. Wisatawan tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh mengabaikan kondisi dan informasi terbaru mengenai destinasi yang hendak dikunjungi. Memastikan status destinasi, mengikuti arahan petugas, memperhatikan kondisi cuaca, serta tidak memaksakan kunjungan ke lokasi yang belum dinyatakan aman menjadi langkah penting selama perjalanan. Pemulihan yang dilakukan dengan mengutamakan keselamatan diharapkan dapat memperkuat kepercayaan wisatawan sekaligus membantu pelaku pariwisata kembali bangkit. Dengan kolaborasi antara pemerintah, pengelola destinasi, pelaku usaha, dan wisatawan, aktivitas pariwisata di Labuan Bajo dan Flores dapat terus berkembang secara bertahap, aman, dan bertanggung jawab.





