Jakarta, 18 Oktober 2026 – Hasil survei Parameter Politik Indonesia menempatkan Presiden Prabowo Subianto sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi dalam simulasi pilihan politik yang dilakukan lembaga tersebut. Di belakang Prabowo, muncul nama Dedi Mulyadi yang dikenal dengan sebutan Kang Dedi Mulyadi (KDM), serta mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Temuan ini memperlihatkan adanya perhatian publik terhadap sejumlah figur dengan latar belakang dan pengalaman politik yang berbeda. Prabowo memiliki posisi sebagai presiden petahana, sementara Dedi Mulyadi dan Anies memiliki rekam jejak dalam pemerintahan daerah. Meski demikian, hasil survei merupakan gambaran preferensi responden pada waktu penelitian dilakukan dan bukan kepastian mengenai hasil pemilihan mendatang.
Elektabilitas Prabowo dalam survei tersebut menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian karena berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan nasional. Sebagai presiden, Prabowo menjalankan tanggung jawab pemerintahan yang mencakup berbagai sektor, mulai dari ekonomi, ketahanan pangan, pertahanan, hingga pelayanan publik. Pelaksanaan kebijakan dan perkembangan kondisi nasional dapat menjadi faktor yang dipertimbangkan masyarakat ketika memberikan penilaian politik. Namun, elektabilitas tidak selalu memiliki hubungan langsung dengan tingkat kepuasan terhadap setiap kebijakan pemerintah. Seorang responden dapat memberikan penilaian berbeda antara kinerja pemerintahan dan pilihan terhadap figur politik. Karena itu, kedua indikator tersebut perlu dipahami secara terpisah.
Kemunculan nama Dedi Mulyadi atau KDM dalam jajaran tokoh dengan elektabilitas menonjol juga menjadi perhatian dalam pembahasan hasil survei. Dedi dikenal melalui perjalanan politiknya di Jawa Barat serta pendekatan komunikasi yang aktif dengan masyarakat. Pengalaman dalam pemerintahan daerah memberikan latar belakang tersendiri bagi publik dalam mengenali figur tersebut. Aktivitas pelayanan masyarakat dan komunikasi melalui media digital juga menjadi bagian dari citra politik yang berkembang di ruang publik. Meski demikian, tingkat pengenalan seorang tokoh tidak secara otomatis menunjukkan dukungan elektoral yang sama besar di seluruh wilayah Indonesia. Perbedaan karakteristik pemilih dan cakupan responden tetap perlu diperhitungkan dalam membaca hasil survei.
Sementara itu, Anies Baswedan tetap menjadi salah satu nama yang muncul dalam pembahasan preferensi politik nasional. Pengalamannya sebagai Gubernur DKI Jakarta dan keterlibatannya dalam kontestasi pemilihan presiden sebelumnya menjadi bagian dari rekam jejak yang dikenal masyarakat. Anies memiliki pengalaman dalam perumusan kebijakan pemerintahan daerah serta komunikasi politik di tingkat nasional. Dalam survei elektabilitas, pengenalan publik terhadap tokoh dapat memengaruhi pilihan responden, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Pertimbangan mengenai program, kepemimpinan, dan kesesuaian pandangan terhadap isu publik juga dapat berperan. Oleh karena itu, posisi Anies dalam survei perlu dilihat sebagai hasil pengukuran pada periode tertentu, bukan sebagai gambaran dukungan yang bersifat tetap.
Dalam simulasi terbuka tersebut, Prabowo memperoleh elektabilitas sebesar 31,6 persen, disusul Dedi Mulyadi dengan 11,4 persen dan Anies Baswedan sebesar 10,1 persen. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di urutan berikutnya dengan 6,9 persen, sedangkan Ganjar Pranowo memperoleh 4,4 persen. Nama Agus Harimurti Yudhoyono tercatat sebesar 2,3 persen dan Mahfud MD sebesar 1,7 persen. Hasil tersebut menunjukkan adanya selisih dukungan yang cukup besar antara Prabowo dan tokoh-tokoh lain dalam simulasi pilihan spontan. Meski demikian, sebanyak 25,5 persen responden menyatakan belum mengetahui atau belum menentukan pilihannya.
Survei Parameter Politik Indonesia dilakukan pada 26 September hingga 6 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara tatap muka dengan teknik pengambilan sampel secara bertingkat atau multistage random sampling. Penelitian tersebut memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar 2,83 persen. Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, menjelaskan bahwa simulasi terbuka dilakukan dengan meminta responden menyebutkan secara spontan tokoh yang akan dipilih apabila pemilihan presiden berlangsung saat survei dilaksanakan. Metode ini berbeda dari simulasi yang menyediakan daftar nama kandidat sehingga hasil keduanya tidak selalu sama.
Perbedaan hasil terlihat ketika survei menggunakan simulasi dengan 17 nama calon presiden. Dalam skema tersebut, Prabowo memperoleh 34 persen, sementara Anies Baswedan berada di urutan kedua dengan 19,4 persen. Agus Harimurti Yudhoyono menyusul dengan 11,1 persen dan Gibran Rakabuming Raka mendapatkan 10,9 persen. Perubahan susunan elektabilitas tersebut menunjukkan bahwa pilihan responden dapat dipengaruhi oleh nama-nama yang tersedia dalam pertanyaan. Oleh sebab itu, perbandingan antarsimulasi perlu mempertimbangkan desain pertanyaan dan daftar kandidat yang digunakan.
Hasil PPI juga berbeda dengan temuan survei lembaga lain yang dirilis pada periode berdekatan. Dalam survei SMRC pada 1–10 Oktober 2026, misalnya, Dedi Mulyadi memperoleh 35,5 persen, Anies Baswedan 10,3 persen, dan Prabowo 9,8 persen dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama. Perbedaan ini memperlihatkan pentingnya memperhatikan metode pengumpulan data, pilihan kandidat, serta bentuk pertanyaan sebelum membandingkan angka elektabilitas. Setiap survei merupakan pengukuran pada periode dan kondisi tertentu, bukan gambaran pasti mengenai hasil pemilihan pada masa mendatang. Dengan demikian, temuan Parameter Politik Indonesia menjadi salah satu bahan untuk memahami dinamika preferensi politik masyarakat menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.




