Jakarta, 1 Oktober 2026 – Teknologi brain-computer interface (BCI) terus berkembang dan mulai diterapkan pada perangkat yang dapat membantu mobilitas penyandang disabilitas. AiMOGA Robotics memperkenalkan kursi roda pintar AiMOGA BCI yang memungkinkan pengguna mengendalikan pergerakan menggunakan sinyal otak. Sistem tersebut memadukan teknologi BCI, kecerdasan buatan, dan kendali gerak robot. Pengguna tidak perlu mengoperasikan joystick dengan tangan untuk memberikan perintah dasar kepada kursi roda.
AiMOGA BCI menggunakan perangkat electroencephalography atau EEG non-invasif dengan delapan kanal untuk menangkap aktivitas listrik otak. Setelah mengenakan perangkat EEG, pengguna memusatkan perhatian pada perintah arah yang ditampilkan melalui layar. Sistem kemudian mengenali pola sinyal EEG dan menerjemahkannya menjadi instruksi untuk maju, mundur, berbelok ke kiri, berbelok ke kanan, atau berhenti. AiMOGA mengklaim akurasi pengenalan perintah mencapai lebih dari 95 persen dengan latensi kurang dari tiga detik.
Teknologi tersebut dikembangkan terutama untuk membantu orang dengan keterbatasan gerak yang kesulitan menggunakan sistem kendali kursi roda konvensional. Head of Brain-Computer Interface AiMOGA Robotics Xie Yuyang mengatakan pengembangan perangkat diarahkan untuk membuka pilihan mobilitas bagi penyandang paraplegia tingkat tinggi, orang yang mengalami strok, serta pengguna dengan gangguan mobilitas lainnya. BCI berbasis EEG memang memungkinkan sistem komputer membaca pola aktivitas otak untuk menghasilkan perintah tanpa mengandalkan gerakan anggota tubuh. Pendekatan serupa terus dikembangkan dalam penelitian teknologi bantu bagi individu dengan gangguan motorik berat.
Kemampuan AiMOGA BCI turut diuji dalam Global Brain-Computer Interface × Medical Insurance Innovation Scenario Competition 2026 di Hangzhou, China. Kursi roda tersebut menjadi juara pertama kategori Mind-Driven Wheelchair Challenge setelah menyelesaikan lintasan dalam waktu 2 menit 16 detik. Catatan tersebut lebih cepat 17 detik dibandingkan tim yang berada di posisi kedua. Dalam perlombaan, waktu penyelesaian lintasan menjadi salah satu indikator utama untuk menguji kemampuan peserta mengendalikan kursi roda menggunakan sinyal EEG.
Pengujian di kompetisi dibuat lebih menantang karena sejumlah fitur bantuan otomatis AiMOGA BCI sengaja dinonaktifkan. Navigasi berbasis peta serta sistem penghindaran rintangan menggunakan LiDAR tidak digunakan sesuai aturan perlombaan. Dengan demikian, pergerakan kursi roda dalam tantangan tersebut bergantung pada kemampuan perangkat menangkap sinyal EEG, mengenali instruksi, dan menerjemahkannya menjadi gerakan. Hasil kompetisi memberikan gambaran mengenai kinerja teknologi tersebut dalam kondisi pengujian yang telah ditentukan penyelenggara.
Untuk penggunaan di luar kompetisi, AiMOGA BCI memiliki sistem keselamatan yang lebih lengkap. Perangkat dilengkapi LiDAR dan depth camera untuk membantu mendeteksi sekaligus menghindari rintangan, serta mendukung navigasi berbasis peta. Kursi roda juga menyediakan layar sentuh, tombol berhenti darurat, dan fungsi pengambilalihan kendali secara manual. Berbagai pilihan kendali tersebut dirancang agar pengguna atau pendamping tetap mempunyai cara lain untuk mengoperasikan perangkat ketika diperlukan.
Meski menjanjikan, teknologi kursi roda berbasis BCI masih menghadapi sejumlah tantangan sebelum dapat digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Konsistensi pembacaan EEG, kebutuhan pengguna untuk mempertahankan fokus, keselamatan di lingkungan yang kompleks, serta kesiapan untuk produksi dan penggunaan massal menjadi beberapa aspek yang masih perlu dikembangkan. Namun, kemajuan AiMOGA BCI menunjukkan bagaimana sinyal otak dapat diterjemahkan menjadi kendali perangkat mobilitas secara langsung. Teknologi tersebut berpotensi memperluas pilihan bagi pengguna dengan keterbatasan motorik yang sulit mengoperasikan kursi roda melalui tangan atau sistem kendali konvensional.




