Jakarta, 3 September 2026 – Persaingan Super League 2026/2027 menghadirkan peta menarik di kursi pelatih setelah Shin Tae Yong dan Mundari Karya menjadi dua juru taktik asal Asia di tengah dominasi pelatih dari Eropa dan Amerika Latin. Dari 18 klub peserta kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim ini, sebanyak 13 tim mempercayakan kendali kepada pelatih berkebangsaan Eropa, sementara tiga tim lainnya ditangani pelatih asal Brasil. Kondisi tersebut membuat Shin yang dipercaya memimpin Persija Jakarta dan Mundari bersama klub promosi Isenmulang Kalteng FC berada dalam kelompok yang sangat kecil. Keduanya membawa latar belakang serta pengalaman berbeda ketika memasuki persaingan musim baru. Komposisi tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya kepercayaan klub-klub Indonesia terhadap pelatih asing, khususnya mereka yang berasal dari Eropa.
Dominasi Eropa terlihat dari keberadaan pelatih yang berasal dari sejumlah negara dengan tradisi sepak bola berbeda. Spanyol menjadi penyumbang terbanyak dengan empat pelatih, sedangkan Portugal dan Belanda masing-masing memiliki tiga wakil. Tiga pelatih lainnya berasal dari Kroasia, Serbia, serta Bosnia dan Herzegovina. Jika digabungkan, jumlah tersebut membuat 13 dari 18 klub Super League musim ini berada di bawah arahan pelatih Eropa. Sementara itu, Brasil menjadi satu-satunya negara Amerika Latin yang memiliki wakil di kursi pelatih dengan jumlah tiga orang.
Shin Tae Yong menjadi salah satu sosok yang paling mendapatkan perhatian setelah dipercaya menangani Persija Jakarta. Pelatih asal Korea Selatan tersebut bukan nama baru bagi sepak bola Indonesia karena sebelumnya menghabiskan sekitar lima tahun menangani Timnas Indonesia. Selama periode tersebut, Shin membawa skuad Garuda menjalani berbagai turnamen internasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di kawasan Asia. Pengalaman panjangnya bersama tim nasional membuat Shin sudah cukup memahami karakter pemain, atmosfer pertandingan, serta ekspektasi tinggi pendukung sepak bola Indonesia. Namun, menangani klub menghadirkan tantangan berbeda karena dirinya harus menjaga konsistensi performa sepanjang kompetisi sekaligus menghadapi jadwal pertandingan yang panjang.
Persija menjadi panggung penting bagi Shin untuk kembali membuktikan kemampuan di level klub. Setelah berpisah dengan Timnas Indonesia pada awal 2025, ia sempat kembali ke Korea Selatan dan menangani Ulsan HD, meskipun perjalanan tersebut berlangsung relatif singkat. Shin memiliki pengalaman besar di level klub karena pernah membawa Seongnam Ilhwa Chunma menjuarai Liga Champions Asia pada 2010. Rekam jejak tersebut menjadi salah satu modal yang membuat kehadirannya bersama Macan Kemayoran menarik perhatian menjelang musim baru. Di Persija, ia dihadapkan pada tuntutan untuk membangun tim yang mampu bersaing di papan atas sekaligus memenuhi ekspektasi pendukung klub yang sangat besar.
Situasi berbeda dihadapi Mundari Karya yang menjadi satu-satunya pelatih lokal Indonesia pada Super League 2026/2027. Mundari dipercaya menangani Isenmulang Kalteng FC setelah klub tersebut melakukan perubahan pada posisi pelatih menjelang kompetisi. Ia menggantikan Ade Suhendra yang masih memegang lisensi A AFC dan tengah menjalani proses untuk memperoleh lisensi Pro AFC. Penunjukan Mundari membuat pelatih berpengalaman tersebut kembali menangani klub secara langsung setelah cukup lama tidak berada di posisi pelatih kepala. Tantangannya semakin besar karena Isenmulang berstatus sebagai tim promosi yang harus langsung berhadapan dengan klub-klub mapan di kasta tertinggi.
Mundari terakhir kali tercatat menangani klub secara langsung sekitar satu dekade lalu. Dalam beberapa tahun terakhir, mantan pelatih Timnas Indonesia U-16 tersebut lebih banyak menjalankan pekerjaan yang berkaitan dengan pengamatan dan analisis teknis pertandingan. Pengalaman panjangnya dalam sepak bola nasional tetap menjadi modal penting untuk memahami karakter kompetisi Indonesia. Namun, perubahan sepak bola dalam beberapa tahun terakhir membuat dirinya menghadapi lingkungan yang berbeda dibandingkan ketika terakhir kali aktif sebagai pelatih klub. Kehadiran pemain asing dengan kualitas semakin beragam, penggunaan teknologi dalam analisis pertandingan, hingga perubahan pendekatan taktikal menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi.
Status Isenmulang sebagai tim promosi turut membuat tugas Mundari tidak ringan. Klub tersebut harus beradaptasi dengan intensitas Super League sekaligus memastikan mampu mengumpulkan poin sejak fase awal kompetisi. Materi pemain mereka juga harus bersaing dengan klub-klub yang melakukan perekrutan besar menjelang musim baru. Dalam situasi tersebut, kemampuan Mundari menyusun organisasi permainan dan memaksimalkan pemain yang tersedia akan menjadi faktor penting. Hasil yang diraih Isenmulang sepanjang musim sekaligus dapat menjadi tolok ukur kemampuan pelatih lokal bersaing di tengah meningkatnya penggunaan juru taktik asing pada level tertinggi.
Dominasi pelatih asing sebenarnya bukan fenomena baru dalam kompetisi sepak bola Indonesia. Dalam beberapa musim terakhir, klub-klub Super League semakin banyak mempercayakan tim kepada pelatih dari Eropa dan Amerika Latin. Tren tersebut juga terlihat dari daftar juara yang dalam empat musim terakhir banyak dipengaruhi tangan pelatih berkebangsaan Eropa. Klub biasanya mempertimbangkan pengalaman, filosofi permainan, kemampuan pengembangan pemain, serta rekam jejak sebelum menentukan pelatih. Namun, minimnya pelatih lokal yang mendapatkan kesempatan sebagai pelatih kepala juga memunculkan tantangan tersendiri bagi perkembangan sumber daya kepelatihan nasional.
Persaingan musim ini menjadi semakin menarik karena setiap pelatih membawa pendekatan berbeda berdasarkan pengalaman dan latar belakang sepak bolanya. Pelatih asal Spanyol, Portugal, dan Belanda umumnya datang dari lingkungan sepak bola yang memiliki sistem pengembangan teknis kuat, sementara juru taktik Brasil membawa pengalaman dari kultur sepak bola Amerika Selatan. Shin memiliki perpaduan pengalaman sepak bola Korea Selatan, kompetisi Asia, dan pemahaman panjang mengenai Indonesia. Mundari, di sisi lain, memiliki pengetahuan mendalam mengenai karakter kompetisi serta pemain lokal. Perbedaan tersebut akan diuji secara langsung ketika seluruh tim mulai menjalani pertandingan secara reguler sepanjang musim.
Keberadaan hanya satu pelatih lokal dari 18 klub juga menjadi gambaran mengenai ketatnya persaingan mendapatkan kepercayaan sebagai pelatih kepala di kasta tertinggi. Pelatih Indonesia tidak hanya harus memenuhi persyaratan lisensi, tetapi juga menghadapi tuntutan prestasi yang semakin tinggi dari manajemen klub dan pendukung. Hasil pertandingan sering menjadi faktor yang sangat menentukan keberlangsungan seorang pelatih sehingga klub cenderung memilih figur yang dianggap memiliki pengalaman lebih besar. Pada saat bersamaan, kesempatan bekerja secara langsung di level tertinggi sangat penting bagi pelatih lokal untuk meningkatkan pengalaman dan membangun rekam jejak. Kiprah Mundari karena itu dapat menjadi salah satu perhatian sepanjang kompetisi.
Super League 2026/2027 pada akhirnya menjadi arena pembuktian bagi Shin Tae Yong dan Mundari Karya di tengah dominasi 16 pelatih dari Eropa dan Amerika Latin. Shin membawa pengalaman internasional dan menghadapi tuntutan besar bersama Persija, sementara Mundari harus membantu Isenmulang bertahan sekaligus bersaing sebagai klub promosi. Keduanya akan berhadapan dengan 13 pelatih Eropa dan tiga juru taktik Brasil yang membawa karakter serta filosofi permainan masing-masing. Persaingan tersebut bukan semata-mata mengenai asal negara seorang pelatih, melainkan kemampuan membangun tim, melakukan adaptasi, dan menghasilkan konsistensi sepanjang musim. Hasil kompetisi nantinya akan memperlihatkan apakah Shin dan Mundari mampu menantang kuatnya dominasi juru taktik Eropa dan Amerika Latin di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.






